|
JAKARTA- Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) menyatakan, selama lima tahun terakhir, setiap kali
pertemuan dengan Diplomat, atau wakil-wakil negara dimanapun, mereka selalu memberikan
apresiasi positif soal transformasi Indone"Kita selalu diberi selamat, Indonesia transform, dari diktator ke demokrasi. Apalagi setelah pemilihan langsung, semua memberikan selamat," ujar JK saat membuka Diskusi Publik yang diselenggarakan Soegeng Sarjadi School of Goverment (SSSG), di Jakarta, Selasa (9/3).
Namun, terlepas dari ucapan selamat atas transformasi Indonesia dalam berdemokrasi, tidak serta merta membuat negara-negara maju menanamkan investasi di Indonesia. Buktinya, ungkap JK, negara-negara tersebut berinvestasi ke China. Seperti yang diketahui, China bukan penganut paham demokrasi.
"Mereka suka ke China, karena disitu stabil, di situ aman, dan sebagainya. Itu semuanya ada. Kalau dalam bisnis, aspek keamanan yang diutamakan," ungkapnya.
Dalam bisnis, kata JK, tidak juga memandang kesamaan religi. "Umat Islam di Timur Tengah, teman kita Islam nih, tapi begitu investasi, wah janganlah di Indonesia, di Eropalah, sama saja sebenarnya," cetusnya lagi.
Sehingga yang menjadi pertanyaan di permukaan, lanjutnya, adalah bagaimana demokrasi di Indonesia menciptakan stabilisasi, kemanan, dan sebagainya. Karena tanpa itu, kata dia, Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.
JK menambahkan, demokrasi bukan agama, bukan perwakilan individu, tujuan demokrasi adalah kesejahteraan umum, kesejahteraan bangsa dan seperti yang tercantum di UUD. "Suatu demokrasi di negara yang dimana tingkat pendapatnya sebegini rendah, tidaklah mudah memang," kata dia.
Dibanyak negara, rezim pengusung demokrasi tidak lebih dari lima tahun berkuasa. Itu merupakan hasil survei selama 50 tahun.
JK menyatakan, ini terbukti di Indonesia. "Pak Habibie 1,5 tahun, Pak Gusdur 2 tahun, Ibu Mega 3 tahun. Dan mudahan-mudahan ini lima tahun lah, karena sudah naik," tukasnya.
(jpnn)
|